Melihat lebih dekat tradisi subak sistem irigasi khas Bali

Berbicara tentang Bali, Bali tidak selalu menikmati keindahan pantai. Ada sisi lain dari Bali yang khusus mengatur sistem pengairan sawah (irigasi) yaitu Subak dan ini tidak kalah menarik untuk disimak. Untuk mendukung sistem tersebut, sangat beruntung bagi Pulau Dewata yang diberkati dengan 150 sungai yang mengalir sepanjang tahun dan itu sudah lebih dari cukup untuk mengairi berhektar-hektar sawahnya. Akan tetapi, irigasi bisa tidak berhasil jika tidak diikuti campur tangan manusi, karenanya petani Bali mengenal pengairan sawah yang cukup unik sebab diturunkan dari generasi ke generasi berabad lamanya. Prasasti kuno telah mencatat bahwa sistem ini telah dikenal sejak tahun 944 Masehi. Penerbangan 1 jam 45 menit dari bandara soekarno hatta terasa begitu cepat. Pagi itu kami menapakan kaki kami di pulau dewata dan langsung menuju warung madeweti di bilangan sanur. Sebuah warung yang menyediakan masakan khas bali halal di pinggir pantai sanur yang indah.Selesai menikmati makan pagi kami langsung menuju ke daerah danau batur dimana upacara subak akan di laksanakan.

Pengairan Bali (subak) tidaklah ditetapkan atas perintah raja, melainkan diinisiasi penduduk desa melalui koperasi desa, yang disebut “subak”. Petani sangat tergantung pada sistem irigasi ini. Di lingkup terkecil, setiap petani adalah anggota dari subak yang sawahnya mendapat suplai air dari bendungan tertentu. Kepala Subak, yang disebut Klian Subak dipilih oleh anggotanya. Dalam subak yang lebih besar yang disuplai oleh sebuah kanal, tingkat terendah disebut tempek. Subak-subak tersebut akan terhubung dengan pura gunung atau pura masceti yang menjadi bagian dari salah satu dari dua candi danau. Dua candi danau yang dimaksud adalah Pura Batu Kau yang mengkoordinasikan irigasi di Bali Barat dan Pura Ulun Danau yang mengkoordinasi irigasi di Utara, Timur dan Selatan Bali.

Budaya ini merupakan manifestasi luar biasa petani bali, tradisi pengairan sawah ini menggabungkan nilai-nilai tradisional suci dengan sistem kemasyrakatan yang terorganisasi. Subak juga merupakan manifestasi dari Tri Hita Karana, sistem kosmologis Bali yang sebagian besar masyarakatnya menganut ajaran Hindu. Hal tersebut merupakan refleksi nyata dari keyakinan masyarakat Bali yang berakar pada konsep kesadaran bahwa manusia harus selalu menjaga hubungan yang harmonis antara manusia dan Tuhan, manusia dan sesama manusia, dan antara manusia dan alam dalam kehidupan sehari-hari.

Subak di Bali menggambarkan kemampuan masyarakat adatnya menerjemahkan sistem kosmologis mereka dalam kehidupan nyata sehari-hari. Hal itu menjadi tercermin dalam perencanaan dan pemanfaatan lahan, penataan pemukiman, arsitektur, upacara dan ritual, serta seni dan juga organisasi sosial. Implementasi konsep tersebut juga terbukti menciptakan pemandangan alam yang mengagumkan dan memiliki nilai budaya tinggi.

Upacara yang di laksanakan di danau batur ini dikenal juga sebagai upacara air, upacara ini dilaksanakan sebagai wujud terima kasih sang manusia terhadap dewa air yang telah memberikan kesuburan pada tanah dan kesejahteraan serta keberlangsungan hidup umat manusia.

Itulah salah satu tradisi subak khas bali yang suda bergenerasi, semoga pengalaman XtremeIndonesia ini bermanfaat bagi Anda yang sedang mencari tahu apa itu tradisi subak.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *