Mengenal Satwa Taman Nasional Tanjung Puting

Taman Nasional Tanjung Puting adalah salah satu wisata alam yang mempunyai sebuah ciri khas yaitu Orangutan, karena tidak banyak wisatawan yang mengenal Taman ini dari khasnya Orangutan tersebut.Karena itu Taman ini sudah menjadi Icon dunia bagi wisatawan bila ingin melakukan perjalanan wisata alam dan melihat orangutan. Kunjungan di taman ini lebih di dominasi oleh para peneliti yang inggin menggali ptensi alam kekayaan flora dan fauna. Dan kali ini Saya yang merupakan dari Tim XtremeIndonesia akan mengunjungi Taman yang fenomenal ini.

Saya terbangun jam 2 pagi dengan kawan karib saya yang bernama Rifki akmal, kami segera bergegas karena kami harus mengejar penerbangan pagi hari di jam 8 am, akan tetapi kami masih belum selesai snack, bickuit dan makanan ringan untuk persiapan petualangan kami. Pada akhirnya kami siap berangkat pada pukul 3.30 am dan langsung menuju airport untuk menemui beberapa orang teman yang sudah menunggu disana.

Kami terbang menggunakan Kalstar untuk menuju Pangkalan Bun di kalimantan tengah. sesampainya disana kami dijemput untuk dibawa ke pelabuhan, dimana kapal sudah meunggu kami. Kapal yang kami tumpangi bukanlah kapal mewah, hanya sebuah kapal kayu akan tetapi terdapat meja makan, wc, dan tempat duduk di ruang terbuka untuk menikmati pemandangan sepanjangn sungai. Pada saat malam tiba, ruang makan pun diubah menjadi ruang bagi kami untuk tidur.

Perjalanan menyusuri sungai selama 2,5 jam, pada sore hari itu kami di perhentian pertama  yang bernama Tanjung Harapan dan kami bersiap untuk meloncat turun dari kapal dan melakukan perjalanan kaki trekking sejauh 1 km menyusuri hutan kalimantan menuju tempat feeding area Orang Utan yang pertama. Kami tiba tepat pada saat Orang Utan diberi makan dan tampak begitu lucu pada saat mereka mengupas pisang, terlebih tingkah laku nya pada saat orang Utan dewasa memberi makan anaknya. Kami sibuk dan terpaku melihat tingkah polah mereka dan tiba2 dari sebelah belakang kami muncul satu Orang Utan yang sangat besar dan langsung menuju ke feeding station,langsung semua orang berhamburan lari, akan tetapi Orang Utan yang besra itu tetap meuju feeding station, jinak sepertinya. Jam memberi makan telah habis dan kami semua harus kembali ke Boat untuk melanjutkan perjalanan menyusuri sungai.

Harga jika menaiki kapal Rp.1,700.000/boat dan bila menaiki pesawat Rp.1,100.000/orang

DSCF5932

Sebelum waktu malam sebentar lagi tiba, Kapal pun ditambatkan pada sisi sungai dikarenakan malam telah tiba dan tidak aman untuk melanjutkan perjalanan di malam hari. Setelah makan malam selesai, crew kapal segera membersihkan area makan karena akan dijadikan area tidur, dengan cekatan mereka menyiapkan kasur tiup dan menyiapkan kelambu untuk kami. perlu di ingat bahwa di kalimantan, Malaria masih merajarela.

DSCF5919

Keesokan paginya, setelah makan pagi, kapalpun melanjutkan perjalanan. di kanan kiri kami melihat banyak sekali, monyet Belanda atau Bekantan bercengkrama dan kami juga melihat banyak burung burung Kingfisher yang sedang berburu ikan di sungai. Perjalanan 3 jam menyusuri sungai menjadi tidak terasa dan sampailah kita di Pondok Tanggui yang merupakan Feeding station kedua yang menjadi tujuan kita. Kami menyiapkan kamera dan botol air sebelum melanjutkan perjalanan trekking menyusuri hutan sejauh 1,5 Km. Kali ini Orang Utan yang ada disana lebih kecil ukuran nya dibandingkan Feeding station pertama akan tetapi mereka memiliki tingkah ppolah yang sama. Feeding station kali ini tidak begitu semenarik yang pertama, hal ini dikarenakan di feeding station yang kedua kami berjumpa dengan Grup National Geographic sehingga menjadi ramai.

DSCF5937

Tak disangka perjalanan kami terhenti di sebuah kanal kecil hal tersebut dikarenakan adanya sebuah pohon besar yang rubuh di tengah kanal dan tidak bisa dilewati, kami terjebak diantara sepuluh kapal lain nya selama hampir 2 jam

Sekembali ke kapal, makan siang telah siap, dan kami langsung menyantap makanan tersebut dengan cepat, maklum anak remaja yang sedang dalam masa pertumbuhan. Perjalanan kembali dilanjutkan menyusuri sungai, satu jam berselang Tak disangka perjalanan kami terhenti di sebuah kanal kecil hal tersebut dikarenakan adanya sebuah pohon besar yang rubuh di tengah kanal dan tidak bisa dilewati, kami terjebak diantara sepuluh kapal lain nya selama hampir 2jam. Kesempatan ini ternyata tidak disia-siakan oleh kawan kita rifki akmal dengan mengambil Pesawat Tanpa awak ( drone DJI Phantom ), Rifki bermaksud untuk terbang dan mengambil gambar dari udara untuk mengetahui apa penyebab tersendatnya perjalanan kita. Dengan cekatan rifki menerbangkan pesawat tersebut dan mengambil beberapa gambar serta membuat video.

DSCF5929
2 jam berselang Para crew kapal berhasil menyingkirkan pohon tersebut dan perjalanan pun dapat di lanjutkan menuju Camp Leakey sebagai Persinggahan yang terakhir. Camp Leakey sendiri merupakan feeding station yang terluas dan sekali lagi kami berjumpa dengan grup National Geographic sehingga keadaan menjadi ramai lancar.

Camp leakey merupakan Camp terakhir dan menjadi perjalanan yang tak terlupakan. kami segera kembali ke kapal dan makan malam pun telah siap. dalam perjalanan kembali ke pangkalan Bun, kapal pun harus kembali bersandar di sisi sungai untuk beristirahat malam. setelah makan malam kami duduk duduk santai di kapal dan melihat kunang2 bertebaran di sisi sungai bagaikan pohon natal. kami pun mencoba untuk menangkap nya dan melihat dari dekat.
Keesokan harinya setelah bmakan pagi, kami langsung menuju kembali ke pelabuhan dan kembali ke airport.

Tanjung puting nasional park mempunyai luas 4150m2 dengan rumah yang di keliilingi orang utan, pelayanan saat menaiki perahu pun sangatlah bagus dan Saya sendiri sangat berminat untuk datang kembali lain waktu.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *